ketika aku kecil meskipun aku selalu bangun tepat waktu, tapi tetep aja ibuku selalu memasang alarm sebelum aku tidur.
ketika aku mulai masuk ke taman kanak-kanak (play group) meskipun aku selalu rajin memotong kuku, tapi tetep aja aku harus ikut antrian panjang untuk menunjukan kebersihan kuku.
ketika aku menginjak sekolah dasar meskipun aku selalu mengerjakan PR, tapi tetep aja aku di ikut sertakan dalam tugas tambahan.
ketika bangku SMP mulai kumasuki meskipun aku belum pernah sekalipun bolos, tapi tetep aja aku mendapatkan surat edaran soal tata aturan tata tertib sekolah.
ketika masa SMA aku lalui meskipun aku nggak pernah ikut tawuran (penakut soalnya hahaha), tapi tetep saja aku dapet santapan rohani dari penegak disiplin.
ketika bangku kuliah tiba, meskipun aku selalu aktif di dalam perkuliahan (sombong banget), tapi tetep aja harus ikut kelas tambahan soal menjadi mahasiswa yang aktif hahahahah.
ketika memasuki dunia kerja, meskipun aku sudah bekerja sesuai dengan apa yang seharusnya, masih aja aku harus melaui prosedur panjang administratif yang di peruntukkan orang - orang yang lebih nyaman dengan ketatnya aturan (maksudnya orang suka melanggar aturan.
jadi bener jika ada istilah:
aturan itu bermanfaat untuk orang yang susah diatur, tapi buat orang yang disiplin aturan bisa berarti menghambat.
Thursday, July 1, 2010
Wednesday, June 30, 2010
integritas yang harus diperjuangkan
berat memang,
penuh resiko pasti,
merasa nggak punya pilihan sudah tentu,
lagi-lagi aku berhasil untuk memilih mempertahankan sikapku yang selama ini aku anggap itu baik buatku, sikap yang harusnya tetap kita budayakan dan di pupuk, sikap sebagai pemutus mata rantai ke tidaksopanan orang dalam memandang arti pekerjaan, sikap yang selama ini bagi sebagian orang yang tentunya warisan dari keluargannya memandang pilihan sebagai kutu loncat adalah suatu hal yang wajar, bahwa mencari pilihan lain bukan berarti mengkianati, bahwa istilah batu loncatan adalah hal yang membumi, bahwa alasan karena di dunia kerja saat ini tidak ada posisi yang pasti menjadi jalan keluar untuk melestarikan tradisi. bahwa anggapan apa yang kita berikan buat pekerjaan kita belum tentu berbalas seperti yang kita berikan merupakan solusi.
so apakah salah jika diantara banyaknya alsan itu masih ada orang yang lebih memilih untuk tetap mengapdi, apakah keliru jika ada orang yang lebih memilih untuk bekerja sepenuh hati meskipun masa depannya tidak pasti, apakah aneh jika ada orang yang lebih memilih untuk menolak penggilan kerja dari tempat lain karena kita menghormati nurani bahkan sampai titik paling dasar ketidakberdayaanpun???????????
penuh resiko pasti,
merasa nggak punya pilihan sudah tentu,
lagi-lagi aku berhasil untuk memilih mempertahankan sikapku yang selama ini aku anggap itu baik buatku, sikap yang harusnya tetap kita budayakan dan di pupuk, sikap sebagai pemutus mata rantai ke tidaksopanan orang dalam memandang arti pekerjaan, sikap yang selama ini bagi sebagian orang yang tentunya warisan dari keluargannya memandang pilihan sebagai kutu loncat adalah suatu hal yang wajar, bahwa mencari pilihan lain bukan berarti mengkianati, bahwa istilah batu loncatan adalah hal yang membumi, bahwa alasan karena di dunia kerja saat ini tidak ada posisi yang pasti menjadi jalan keluar untuk melestarikan tradisi. bahwa anggapan apa yang kita berikan buat pekerjaan kita belum tentu berbalas seperti yang kita berikan merupakan solusi.
so apakah salah jika diantara banyaknya alsan itu masih ada orang yang lebih memilih untuk tetap mengapdi, apakah keliru jika ada orang yang lebih memilih untuk bekerja sepenuh hati meskipun masa depannya tidak pasti, apakah aneh jika ada orang yang lebih memilih untuk menolak penggilan kerja dari tempat lain karena kita menghormati nurani bahkan sampai titik paling dasar ketidakberdayaanpun???????????
Tuesday, June 22, 2010
berpura-pura
untuk meninggalkan dan melupakan masalah cukup berpura-pura memikirkan masalah yang lain,
untuk meninggalkan dan melupakan tanggung jawab cukup berpura-pura tidak peduli akan komitment,
untuk meninggalkan dan melupakan tugas cukup berpura-pura mengerjakan tugas tang lebih penting,
untuk meninggalkan dan melupakan kewajiban cukup berpura-pura ada kewajiban yang lebih utama,
untuk meninggalkan dan melupakan pekerjaan cukup berpura-pura sibuk,
untuk meninggalkan dan melupakan sahabat tidak cukup dengan berpura-pura.
untuk meninggalkan dan melupakan tanggung jawab cukup berpura-pura tidak peduli akan komitment,
untuk meninggalkan dan melupakan tugas cukup berpura-pura mengerjakan tugas tang lebih penting,
untuk meninggalkan dan melupakan kewajiban cukup berpura-pura ada kewajiban yang lebih utama,
untuk meninggalkan dan melupakan pekerjaan cukup berpura-pura sibuk,
untuk meninggalkan dan melupakan sahabat tidak cukup dengan berpura-pura.
cuma sebentar
cuma sebentar rasanya sehingga tak terasa lamanya,
cuma sebentar rasanya sehingga tak terasa ada yang berbeda,
cuma sebentar rasanya sehingga tak terpikirkan kalau semua akan berubah,
cuma sebentar rasanya sehingga kita tak siap untuk menghadi segala kemungkinan,
cuma sebentar rasanya sehingga kita ternyata harus meneruskan cita-cita pribadi,
cuma sebentar rasanya sehingga kita tak sadar kehadiran kita ternyata mewarnai persahabatan,
cuma sebentar rasanya sehingga kita seakan tak peduli bahwa kita punya jalannya sendiri,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang biasanya kita tunggu,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang biasanya ingin kita jumpai lagi,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang kita cari,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang membuat kita sadar bahwa waktu tidak pernah mundur,
cuma sebentar dan bukankah hanya sebentar yang membuat kita tahu betapa berharganya pertemuan,
cuma sebentar dan bukankah hanya sebentar...............
cuma sebentar rasanya sehingga tak terasa ada yang berbeda,
cuma sebentar rasanya sehingga tak terpikirkan kalau semua akan berubah,
cuma sebentar rasanya sehingga kita tak siap untuk menghadi segala kemungkinan,
cuma sebentar rasanya sehingga kita ternyata harus meneruskan cita-cita pribadi,
cuma sebentar rasanya sehingga kita tak sadar kehadiran kita ternyata mewarnai persahabatan,
cuma sebentar rasanya sehingga kita seakan tak peduli bahwa kita punya jalannya sendiri,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang biasanya kita tunggu,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang biasanya ingin kita jumpai lagi,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang kita cari,
cuma sebentar dan bukankah yang hanya sebentar yang membuat kita sadar bahwa waktu tidak pernah mundur,
cuma sebentar dan bukankah hanya sebentar yang membuat kita tahu betapa berharganya pertemuan,
cuma sebentar dan bukankah hanya sebentar...............
Monday, June 21, 2010
Aturan itu siapa kita
damainya hidup jika dunia ini diisi dengan orang2 yang baik, orang yang jujur dalam berperilaku, orang yang punyai nilai2 hidup yang tulus, punya integritas yang bagus, punya karakter yang teguh dan disiplin atas dasar nilai pribadi.sayang dunia ini terlalu luas kalau hanya diisi pribadi yang baik. terlalu sepi kalau cuma di isi orang yang satu pendapat, terlalu menjenuhkan kalau diisi orang yang tidak berani mengekpresikan perasaan dan emosinya. terlalu rendah kualitas hidup ini kalau cuma di isi oleh orang2 yang tidak berani melakukan sesuatu yang dianggapnya benar dan baik untuk semua, terlalu "garing" dunia ini kalau cuma di isi orang-orang yang serius untuk kepentingan pribadi dan menyepelekan untuk banyak orang, terlalu membosankan jika dunia ini di isi oleh orang2 yang suka menunjukan kebodohannya dengan terlalu banyak menertawakan kelemahan orang lain.
karena banyaknya orang yang tidak suka hidup di dunia inilah, yang membuat orang berbondong-bondong membuat aturan, membuat undang-undang, membuat kebijakan, membuat prosedur baku, tata laku dll yang menurut mereka dapat menyeragamkan karakter, perilaku, tindaktanduk, pola kerja dan mungkin dijadikan tameng akan kekurangan pribadi atau buruknya kualitas seseorang.
so semakin banyak dan rumit aturan selalu berbanding lurus dengan banyaknya orang yang tidak jujur.
semakin banyak aturan semakin menunjukan bodohnya kita karena terlalu banyak dirugikan, terlalu sering kita di bohongin, terlalu sering di tertawakan hahahahaha
karena banyaknya orang yang tidak suka hidup di dunia inilah, yang membuat orang berbondong-bondong membuat aturan, membuat undang-undang, membuat kebijakan, membuat prosedur baku, tata laku dll yang menurut mereka dapat menyeragamkan karakter, perilaku, tindaktanduk, pola kerja dan mungkin dijadikan tameng akan kekurangan pribadi atau buruknya kualitas seseorang.
so semakin banyak dan rumit aturan selalu berbanding lurus dengan banyaknya orang yang tidak jujur.
semakin banyak aturan semakin menunjukan bodohnya kita karena terlalu banyak dirugikan, terlalu sering kita di bohongin, terlalu sering di tertawakan hahahahaha
Sunday, June 20, 2010
Jujur lah
bukan mulai dari awal,
bukan mulai yang baru,
bukan mengganti yang lama,
bukan mencari yang baru,
bukan melupakan yang lama,
bukan menghindari yang baru,
semua itu bukan suatu masalah ketika kita jujur;
jujur dalam berkawan,
jujur dalam berperilaku,
jujur dalam persahabatan,
jujur dalam perkataan,
jujur dalam pribadi,
bukan mulai yang baru,
bukan mengganti yang lama,
bukan mencari yang baru,
bukan melupakan yang lama,
bukan menghindari yang baru,
semua itu bukan suatu masalah ketika kita jujur;
jujur dalam berkawan,
jujur dalam berperilaku,
jujur dalam persahabatan,
jujur dalam perkataan,
jujur dalam pribadi,
Rutinitas yang tidak biasa
Kini aku menjadi orang yang paling pertama;
Orang pertama yang masuk kantor,
Orang pertama yang namanya tertera di daftar absen,
Orang pertama yang membuka jendela,
Orang pertama yang menyalakan lampu,
Orang pertama yang tahu kotornya keadaan ruangan kantor,
Orang pertama yang membuat takut tikus-tikus kantor,
Orang pertama yang menyalakan komputer untuk memanfaatkan waktu untuk sekedar melihat berita.
Orang pertama yang membalas sapaan khas kantor
Tapi kini aku juga menjadi orang yang paling terakhir;
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi orang yang datang tepat pukul 07;00,
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi sinar mentari karena belum ada yang membuka jendela,
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi orang yang di paginya sudah sibuk melihat berita gosip di internet dan lowongan pekerjaan hahahaha,
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi orang yang menyapaku ketika aku masuk ruangan,
Orang terakhir yang sadar bahwa ada rutinitas yang tidak biasa,
Orang terakhir yang sadar bahwa aku harus tetap meneruskan tradisi positif ini, bukan untuk menjadi orang yang terakhir tapi untuk menjadi orang yang pertama yang sadar bahwa aku pernah mempunyai seorang sahabat.
Orang pertama yang masuk kantor,
Orang pertama yang namanya tertera di daftar absen,
Orang pertama yang membuka jendela,
Orang pertama yang menyalakan lampu,
Orang pertama yang tahu kotornya keadaan ruangan kantor,
Orang pertama yang membuat takut tikus-tikus kantor,
Orang pertama yang menyalakan komputer untuk memanfaatkan waktu untuk sekedar melihat berita.
Orang pertama yang membalas sapaan khas kantor
Tapi kini aku juga menjadi orang yang paling terakhir;
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi orang yang datang tepat pukul 07;00,
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi sinar mentari karena belum ada yang membuka jendela,
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi orang yang di paginya sudah sibuk melihat berita gosip di internet dan lowongan pekerjaan hahahaha,
Orang terakhir yang sadar bahwa tidak ada lagi orang yang menyapaku ketika aku masuk ruangan,
Orang terakhir yang sadar bahwa ada rutinitas yang tidak biasa,
Orang terakhir yang sadar bahwa aku harus tetap meneruskan tradisi positif ini, bukan untuk menjadi orang yang terakhir tapi untuk menjadi orang yang pertama yang sadar bahwa aku pernah mempunyai seorang sahabat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
