berat memang,
penuh resiko pasti,
merasa nggak punya pilihan sudah tentu,
lagi-lagi aku berhasil untuk memilih mempertahankan sikapku yang selama ini aku anggap itu baik buatku, sikap yang harusnya tetap kita budayakan dan di pupuk, sikap sebagai pemutus mata rantai ke tidaksopanan orang dalam memandang arti pekerjaan, sikap yang selama ini bagi sebagian orang yang tentunya warisan dari keluargannya memandang pilihan sebagai kutu loncat adalah suatu hal yang wajar, bahwa mencari pilihan lain bukan berarti mengkianati, bahwa istilah batu loncatan adalah hal yang membumi, bahwa alasan karena di dunia kerja saat ini tidak ada posisi yang pasti menjadi jalan keluar untuk melestarikan tradisi. bahwa anggapan apa yang kita berikan buat pekerjaan kita belum tentu berbalas seperti yang kita berikan merupakan solusi.
so apakah salah jika diantara banyaknya alsan itu masih ada orang yang lebih memilih untuk tetap mengapdi, apakah keliru jika ada orang yang lebih memilih untuk bekerja sepenuh hati meskipun masa depannya tidak pasti, apakah aneh jika ada orang yang lebih memilih untuk menolak penggilan kerja dari tempat lain karena kita menghormati nurani bahkan sampai titik paling dasar ketidakberdayaanpun???????????
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment